PUASA, ARAK dan KEKUASAAN


Kita segera akan memasuki  bulan Ramadhan, hari-hari yang mengasyikkan bagi orang-orang yang  mencari kesejatian hidup, saat-saat yang menggiurkan bagi setiap manusia yang sadar melakukan peperangan  terhadap dunia, nafsu, milik, kekuasaan, dan kesombongan. Allah berkali-kali mengiming-imingi surga, sungai susu, kebun hijau, bidadari dan hidangan-hidangan. Itu adalah idiom tentang surga berdasarkan kepada konteks pengalaman budaya masyarakat Arab yang pasti  berbeda dengan “idiom surga”-nya orang Jawa, misalnya.

Jika orang Jawa mengobsesikan surga, maka formula yang muncul di benaknya bukanlah sungai, karena kita sudah kaya dengan sungai. Bukan pula bidadari, karena alam kita sudah menyediakan “bidadari-bidadari”. Surga orang Jawa mungkin juga tidak sama, bergantung pada kondisi masing-masing. Bagi orang yang sudah terlalu kenyang dengan kekuasaan  dan kesejahteraan, surga adalah kemerdekaan dan kesederhanaan. Bagi orang lain yang yang di hardik-hardik untuk hengkang dari tanah nenek moyangnya, surga  itu sederhana saja, ketentraman hidup di rumah keadilan. Surga itu nilai, surga itu kualitas. Format budayanya bisa  berbeda-beda sesuai dengan lokal-lokal persoalan manusia dan masyarakat.

Tuhan berkali-kali mengiming-imingi surga. Tapi  Dia mengerti dan memang menciptakan demikian, bahwa arti kehidupan antara lain adalah kesanggupan untuk melakukan segala iming-iming surga itu suatu kesengajaan agar manusia melakukan transendensi atasnya, kemudian mencari, merindukan, dan mengejar sesuatu yang lebih hakiki, sejati, serta kebahagiaan yang sebahagia-bahagianya.

Allah memberi peluang bagi tiga kemungkinan atau tiga level kemusliman. Terserah kepada manusia akan memilih yang mana.  Ada – kalau saya memakai term aktual –“Muslim Birokratis”, ada “Muslim Kapitalis” dan ada “Muslim”.

Yang pertama dalam khasanah tasawuf, di sebut “Muslim Rahbani”: Manusia yang melakukan peribadatan karena perturan dan rasa takut. Disebut  “birokratis” karena motivasi  ibadahnya mirip dengan psikologi pegawai yang berorientasi pada presensi.

Yang kedua disebut “ Muslim Hayawani”. Di asosiasikan pada kapitalisme karena ibadah diposisikan sebagai “capital”. Ia melakukan shalat, puasa, memberi  zakat dan seterusnya, agar memperoleh laba yang bernama pahala. Muslim jenis ini adalah pedagang yang bernegosiasi kapitalistik dengan Allah. Terminologi yang dipakai adalah untung rugi. Surga adalah keuntungan, neraka adalah kerugian. Tidak beribadah, tidak menjalankan perintah Allah, dan melanggar larangan-larangannya berati merintis kebangkrutan. Jadi, seluruh perilaku keagamaan yang dilaksanakannya menyangkut kepentingan untuk tidak mengalami  “defisit  akherat”.

Pada  level syariat format, dua tingkat kemusliman ini masih tetap di terima Allah. Mengucapkan syahadat sudah membuat seseorang berstatus muslim, meskipun dalam praktek hidupnya belum tentu ia menomorsatukan  Allah. Asal melakukan shalat lima waktu, seseorang sudah bisa  di sebut muthi’ atau loyal kepada norma Islam, meskipun belum tentu ada interaksi  fungsional antara shalat resminya dengan sepak terjang kehidupan konkretnya. Betapa sayangnya Allah kepada manusia, mahluk yang dibuatNya tertinggi dan termulia.

Tetapi  iming-iming “transparan” yang sering dilupakan atau diabaikan Muslimin, oleh fatwa-fatwa ulama, oleh pelajaran mengaji, serta oleh kurikulum persekolahan Islam, baik di pesantren atau di Madrasah Islam Modern, ialah perjumpaan dengan Allah. Liqa’ Rabb,perjumpaan  agung dan indah dengan si  Maha Penyantun yang menggembalakan semua gejala hidup manusia. Inilah jenis muslim ketiga,”Muslim Rabbani”.

Penyair Rabiah Al-Adawiyah menangis - “Kalau ibadahku ini aku lakukan untuk mengharap surgaMu, Ya Rabbi,campakkanlah aku ke dalam api ganasMu. Kalau ibadahku ini aku lakukan karena takut kepada nerakaMu, Ya Rabbi, tutuplah  pintu surga bagiku…”.  Rabiah menginginkan Allah. Hanya Allah. Bukan rindu laba. Ia tidak diperbudak oleh kengerian, terhadap ketidak kekuasaan, terhadap kejatuhan ke kerak neraka,  apalagi kejatuhan dari kursi  jabatan dunia.

Seperti  telah menjadi bagian dari penghayatan kaum muslimin di segala zaman, bahkan Ibrahim a.s menunjukkan betapa besar jiwanya tatkala  harus mengorbankan putra kesayangannya.  Dan Ismail a.s sendiri sepenuhnya merelakan nyawanya kepada Allah yang memintanya.

Di atas saya menyebutkan jenis ini dengan kata “Muslim” saja,karena konsep filosofis dan epistimologis kemusliman memuat makna kepasrahan total hanya kepada Allah. Kepasrahan kepada Allah berarti ketidakpasrahan terhadap yang selain Allah. Manusia yang mengabdi hanya kepada Allah mungkin harus berhadapan dengan kekuatan-kekuatan yang memusuhi Allah di dunia. Ia mungkin harus berperang, mungkin terpaksa di benci, disingkirkan, difitnah, dan dilemparkan. Dan yang melempar “Muslim” mungkin tidak harus kekuatan ateistik atau kekuatan-kekuatan non-Islam lainnya, melainkan ia sangat mungkin ia digeleparkan juga nasibnya oleh sesama Muslim yang berada pada level  Rabbani atau Hayawani.

Apa yang “Muslim” peroleh juga bisa kejayaan dan kekayaan, tapi bisa  juga ketiadaan harkat duniawi, kepapaan, dan kehinaan di mata dunia. Namun itulah “biaya” yang harus ia bayarkan untuk memperoleh keabadian bersama  Allah, kesejarteraan, dan kebahagiaan sejati. ”Muslim” tak perlu menunggu tua turun jabatan untuk menginsyafi bahwa kekuasaan dunia, bahwa deposito bermilyar rupiah, bahwa genggaman senapan di tangan, sungguh hanya berlaku sementara. Betul-betul akan luluh hanya dalam beberapa tahun dan alangkah sebentarnya itu.

“Muslim” mengetahui bahwa “kapitalisme peribadatan” pada akhirnya justru akan menghasilkan defisit dan kebangkrutan ukhrowi yang serius dan total. Di dunia pun sudah amat sempit peluang untuk menikmati kepalsuan-kepalsuan itu apalagi di akhirat.
Oleh karena itu, memasuki  bulan Ramadhan, sungguh sungguh merupakan momentum yang mengasyikkan untuk bercermin kembali. Untuk meluncurkan sinar “rotgen” ruhaniah ke dalam realitas batin dan kasunyatan hidup yang kelak di jalani. Mekanisme dan penghayatan puasa adalah saat-saat paling jernih untuk meneropong hama-hama wereng di dalam bathin kita,kutu-kutu loncat di galaksi mentalitas kita, serta cecunguk-cecunguk di dalam kosmos kepribadian kita. Dengan ditemukannya berbagai virus dan kuman seharah di dalam kasunyatan diri itu, otomatis akan tampak juga sumber-sumber yang menyebabkannya. Baik sumber eksternal, yakni segala iming-iming duniawi struktural sistemik, hedonism, megalomania, kepalsuan rasa kuasa yang dipompa-pompakan oleh alam sekitar, maupun sumber-sumber internal yang berupa natur nafsu-nafsu itu sendiri.

Di hari-hari pertama puasa, seseorang masih punya “argumentasi” untuk menutup-nutupi atau memaaf-maafkan kuman-kuman itu. Tetapi sesudah pertengahan Ramahan, jika puasa dilakasanakan sungguh-sungguh total lahir batin, insya Allah ia akan lebih sumeleh, lebih lathif, lembut, jernih, dan kemudian muncul hakikat kebersamaan jiwanya untuk mengaku merasa bersalah di hadapan dirinya sendiri serta di hadapan Allah. Kecuali jika manusia memilih kehancuran. Baik kehancuran di mata orang lain, di mata pergaulan, maupun kehancuran yang diam-diam namun tajam dan menusuk dari dalam dirinya sendiri.

Puasa sering dilambangkan sebagai “air arak”, khamr.
Intinya: proses peragian. Ketela di ubah menjadi tape.Manusia berpuasa untuk mengubah dirinya menjadi sumeleh. Dan sumeleh adalah kemenangan sejati atas dirinya sendiri. Sejarah akan mencatatnya dengan tinta yang tidak mengandung kehinaan. Puasa mempertemukan manusia dengan sejatinya ketiadaan. Puasa mempertemukan manusia dengan dimensi lapar dan dahaga. Dalam pertemuan itu,, ia bukan saja bisa menghayati nasib orang yang kelaparan atau yang di bikin kelaparan dan kehausan, tetapi juga membuat para penghayat puasa untuk menemukan “makanan sejati”.

Dikutip dari buku  Surat Kepada Kanjeng Nabi  - Emha Ainun Nadjib (1997)

Do Not Miss It Posting Like This. Please Subscribe:



Related Articles: