VARUNA AMRITA

Jelang senja, hujan masih menanda Desember
Namun dingin tak lagi menelusup tulang
Buah angan tertinggal dalam sepenggal khayal
Katamu, akulah yang selalu kau rindu
Tentangku, akulah hasrat kasihmu
.................................................





Diam, terperangkap di sambut hening malam
Tenang, semestinya menembus ketiadaan
Kelam, langkahmu beku, meniada
dalam jejak yang engkau hapus sendiri
Aku sapa engkau hanya menjelma rasa
Aku teriak engkau seolah melena
Hanya bermenung, menatap kosong amarah
laksanaku hanya sementara bersinggah
.................................................
Sita Sarma Avara Asa...
Kemana lagi kalimat itu
Berpenghujung atau pungkas dalam sekelebatan
Bukankah hening malam selalu ingin engkau peluk,
Bukankah keabadian adalah jalan menujuNya
.................................................
Namun selalu lah engkau ingat seperti aku ungkap
Kata seorang bijak yang selalu ku genggam erat
"Ketika Tuhan berharap untuk menolong
Dia membiarkan kita bersimbah air mata
Namun air mata untukNya membawa 
kebahagiaan dan menghasilkan tawa
Siapa yang mengharapkannya adalah hamba Tuhan
Kemanapun air mengalir, kehidupan menghijau
Kemana air mata jatuh, keagungan Illahi dipersaksikan"

Do Not Miss It Posting Like This. Please Subscribe:



Related Articles: